Home IBO Santapan Rohani Islam Iman yang hidup dan menghidupkan
Banner

Promo

Statistics

Members : 41
Content : 47
Web Links : 27
Content View Hits : 6441
 
Iman yang hidup dan menghidupkan PDF Print E-mail
Written by AK Sentika / Admin-02   
Monday, 22 March 2010 08:16
Dia (Fir’aun) berkata (karena para tukang sihirnya berbalik menjadi beriman kepada Musa a.s), “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu ? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan kupotong tangan dan kakimu dengan bersilang dan sungguh akan kusalib kamu semuanya”. Mereka (para tukang sihir Fir’aun) berkata “Tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami menjadi orang yang pertama-tama beriman (QS 26,Asy-Syuara49-51)


Penggalan kisah yang monumental dalam ayat-ayat Al Quran tersebut mengisahkan tentang berimannya para tukang sihir Fir’aun setelah mereka dikalahkan oleh Nabi Musa a.s dalam suatu acara yang sedianya didesain oleh Fir’aun untuk menunjukkan kelemahan mukjizat Nabi Musa a.s. Setelah Nabi Musa a.s mengalahkan sihir mereka, justru mereka berbalik beriman kepada Nabi Musa a.s, yang kemudian mengakibatkan kemarahan Fir’aun yang luar biasa sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas.

Yang akan menjadi bahasan kita bukanlah bagaimana para tukang sihir ini akhirnya menjadi beriman kepada Allah dan Nabi Musa as, tetapi bagaimana keyakinan dan keimanan mereka (yang sangat baru) begitu teguh dan mampu menenangkan mereka sekalipun harus menghadapi ujian yang begitu berat berupa siksaan dari Fir’aun. Inilah keimanan yang hidup dan menghidupkan, yang mampu mengubah para pelakunya dari ketakutan menjadi keberanian, dan dari kebatilan kepada kebenaran. Inilah iman yang hidup dan menghidupkan, iman yang memiliki efek nyata dalam kehidupan dan bahkan mampu menggerakkan jiwa-jiwa manusia yang lain untuk turut beriman.

Dewasa ini kita banyak menyaksikan orang yang mengaku beriman, bahkan keimanannya itu dia buktikan secara jelas dengan berbagai amalan seperti ibadah haji dan sedekah dalam berbagai berntuknya, akan tetapi sayangnya keimanan itu tidak mampu mengubah sikap mental pelakunya ke dalam kemuliaan yang diharapkan oleh Islam.

Tidak sedikit pejabat yang menyandang dikenal sebagai tokoh masyarakat yang agamis, tetapi begitu rapuh ketika menghadapi masalah dan pergi ke dukun (walaupun dengan samaran nama ‘kiai’ atau ‘orang pintar’). Pengakuan keimanannya tidak sedikitpun membuat dia lebih yakin tentang kekuasaan Allah SWT, sehingga dia mencari jalan solusi pertolongan jin yang diharamkan oleh Allah SWT.

Begitu pula kita lihat ada orang-orang yang tidak risih melakukan praktek-praktek muamalah yang tidak terpuji seperti suap, korupsi, kolusi dan nepotisme, padahal dia sudah memiliki titel haji, bahkan mungkin naik haji pun sudah beberapa kali. Seolah-olah dia sama sekali tidak yakin bahwa Allah SWT adalah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rizki, yang pasti akan memberikan rezeki yang halal kepada hamba-Nya.

Ada pula orang yang mengaku beriman tetapi tetap kikir dalam membayar zakat, bahkan dia menunda-nunda hak fakir miskin, tidak memiliki kepedulian sosial, dan sebagainya. Seolah-olah keimanan yang diucapkannya tidak memiliki kaitan apapun dengan tanggung jawab sosialnya sebagai ummat manusia, sehingga seringkali mengundang komentar orang yang skeptis terhadap agama “Lebih baik orang tidak sholat tapi dermawan daripada orang rajin ibadah tapi tidak memiliki tanggungjawab sosial”.

Yang benar-benar kita harapkan, adalah keimanan yang telah kita ucapkan dan bahkan kita coba buktikan kepada orang-orang lain di sekitar kita, dapat menjadi sumber inspirasi yang dahsyat dan melahirkan perubahan-perubahan yang besar dalam diri kita dan masyarakat kita. Keimanan seharusnya menjadi titik tolak untuk meninggalkan segala rizki yang haram, riba, dan segala muamalah yang dilarang Allah SWT. Keimanan juga seharusnya menimbulkan perasaan malu melanggar larangan Allah SWT, sehingga muslimah yang mengaku beriman tetapi tidak mau menutup aurat dengan sempurna. Keimanan seharusnya menjadikan kita teguh, yakin dengan kekuasaan Allah SWT, sehingga tidak tergoda dengan solusi-solusi pintas seperti perdukunan dengan segala variannya. Keimanan juga menjadikan kita welas asih kepada fakir miskin, membela hak-hak mereka dan menunaikan bagian hak dari rizki kita untuk mereka. Inilah keimanan yang kita harapkan, yang hidup dan menghidupkan, seperti keimanannya para penyihir Fir’aun yang dikisahkan dalam Al Quran.

Pada puncaknya, hanya keimanan seperti inilah yang akan mengeluarkan negeri kita dari nasib yang penuh paradoks. Negeri yang katanya jumlah kaum muslimnya terbanyak, tapi tidak putus malang didera musibah, menjadi salah satu negara terkorup di dunia, indeks pengembangan manusianya rendah, dan konsumen pornografi terbesar kedua di dunia.

Mari kita ingat, bahwa di balik setiap perintah Allah SWT, selalu terdapat tuntutan pembuktian kebenaran keimanan. Allah SWT mewajibkan kepada kita perintah shalat, dan Dia menjelaskan hakekatnya “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar”. Allah SWT juga mewajibkan kita berzakat dan berinfak dan secara tegas Dia pun menjelaskan hakekatnya “Supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”. Allah SWT mewajibkan kita menunaikan shaum, bukan supaya kita lapar, tetapi supaya “Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa”, supaya kita memiliki kehalusan jiwa, solidaritas sosial, dan perilaku jujur, karena hanya Allah SWT yang tahu kita sedang shaum atau tidak.

Dengan memenuhi tuntutan-tuntutan hakekat tersebut, dan tidak sekedar terpaku untuk melaksanakan bentuk fisik dari ibadah, maka insya Allah kita akan merasakan dorongan yang luar biasa dari keimanan dalam jiwa kita, dan keimanan itu akan mencerahkan hidup kita, bahkan mampu menghidupkan dan mencerahkan jiwa-jiwa lain yang dekat dengan kita.

Wallahu a’lam bish shawab

Ismir Kamili

(Buletin Jum'at DKM Al Hikmah Antapani Kidul No 58 Tgl 19 Maret 2010 / 03 Rabi’ul Akhir 1431 H )
 
Copyright © 2010 p2tel-indonesia.com. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
 

Kunjungan Web

016279
Hari Ini18

Online Clock

Calendar

September 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

Featured Links:
Banner
Banner
Banner
Banner

Random Image

No images
Joomla Popin Window by DART Creations